Inovasi Beton Pracetak Ramah Lingkungan dari Limbah PET
Inovasi Beton Pracetak dari Limbah PET
Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Program Studi Teknik Material, Hasby Abdul Hafiz Munandar dan Muhammad Fauzan, mengembangkan inovasi bahan bangunan ramah lingkungan berupa beton pracetak berbasis limbah plastik polyethylene terephthalate (PET). Inovasi tersebut dikembangkan melalui tim bernama 2% HJSI.
Teknologi Ecobond
Tim 2% HJSI mengembangkan beton pracetak dengan memanfaatkan limbah PET sebagai salah satu agregat untuk menggantikan sebagian agregat kerikil dalam campuran beton. Material yang digunakan terdiri atas semen, agregat kerikil, agregat limbah PET, agregat pasir, polyvinyl alcohol (PVA), dan silikon dioksida (SiO2). Hasby mengatakan bahwa penggunaan limbah plastik sebagai substitusi agregat sebenarnya bukan hal baru, namun timnya menghadirkan pendekatan berbeda melalui teknologi yang mereka namakan Ecobond.
Beton Lebih Ringan dengan Mutu K-400
Salah satu perbedaan beton pracetak yang dikembangkan tim 2% HJSI dengan beton pracetak konvensional terletak pada bobotnya. Beton hasil inovasi mereka dirancang lebih ringan, tetapi tetap memiliki kuat tekan yang setara dengan beton konvensional meskipun sebagian agregatnya digantikan oleh limbah PET. Beton tersebut dikembangkan dengan nilai mutu K-400 yang ditujukan untuk kebutuhan struktural berat, seperti gedung, jembatan, hingga pabrik.
Topik ini juga kami bahas dari sudut pandang lain di KEK Industropolis Batang Masa Depan Kawasan Industri Hijau Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan — layak dibaca bila Anda ingin gambaran yang lebih lengkap.
Raih Juara 1 The 3rd UNBC
Inovasi beton pracetak ramah lingkungan tersebut kemudian dibawa Tim 2% HJSI dalam kompetisi The 3rd UNBC. Grand final kompetisi berlangsung di Universitas Islam Bandung (Unisba) pada 3 September 2026. Hasilnya, tim yang beranggotakan Hasby dan Muhammad Fauzan tersebut berhasil meraih juara pertama.
Berpeluang Dikomersialisasikan
Meski berhasil meraih juara pertama, pengembangan beton pracetak berbasis limbah PET tersebut masih membutuhkan sejumlah tahapan sebelum dapat diproduksi secara komersial. Hasby menjelaskan bahwa hasil yang diperoleh saat ini masih berada pada tahap pengujian laboratorium dan simulasi. Karena itu, diperlukan pengujian lanjutan untuk memastikan performanya ketika diterapkan dalam skala komersial.
Peluang Pemanfaatan Limbah PET
Inovasi mahasiswa ITB tersebut menunjukkan peluang pemanfaatan limbah PET sebagai material alternatif dalam industri konstruksi. Dengan pengembangan teknologi yang lebih lanjut, beton pracetak berbasis limbah plastik diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pengurangan sampah, tetapi juga mampu menjadi material konstruksi yang memiliki nilai ekonomi dan memenuhi kebutuhan pembangunan berkelanjutan.
Sebagai referensi investasi Anda, simak Rumah Tinggal dan Kost yang sedang kami pasarkan di Yogyakarta.
Tertarik dengan properti di Yogyakarta?
Lihat katalog rumah, villa, dan kavling siap huni dari TSA.
Jelajahi Katalog Properti